Selasa, 18 Oktober 2011

respon orangtua terhadap bayi baru lahir


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bounding attachment
Bounding merupakan suatu langkah awal untuk mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir.
Attachment merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara specifik sepanjang waktu. (Saxton. N and Pelikan. 1996)
Jadi Bounding Attachment adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya scara terus menerus.
Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan batin antara orang tua dan bayinya.
Pengertian bounding attachment menurut beberapa ahli, antara lain :
a.       Interaksi orang tua dan bayi secara nyata baik fisik, emosi dan sensori pada menit-menit dan jam-jam pertama segera setelah bayi lahir (Klause dan Kennel, 1983).
b.       Bounding menurut Nelson (1986) adalah dimulainya interaksi emosiØ sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir.
c.        Attachment menurut Nelson (1986) adalah ikatan yang terjalin di antaraØ individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab.
d.      Menurut Bennet dan Brown(1999) pengertianØ bounding adalah terjadi hubungan orang tua dan bayi sejak awal kehidupan, sedangkan attachment adalah pencurahan kasih sayang di antara individu.
e.        Bounding attachment yaitu permulaan saling mengikat antara orang-orangØ seperti antar orang tua dan anak pada pertemuan pertama (Brozelton dalam Bobak, 1995)
f.       Parmi (2000) mendefenisikan sebagai suatu usaha untuk memberikan kasihØ sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi baru lahir.
g.      Perry (2002) bounding adalah proses pembentukan attachment atauØ membangun ikatan dan attachment adalah suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi
h.       Bounding attachment yaitu sebuah peningkatan hubungan kasih sayangØ dengan keterikatan bathin antara orang tua dan bayi (Subroto cit lestari, 2002).
2.1.1 Respon antara ibu dan bayi sejak kontak awal hingga tahap perkembangannya
a.       Touch ( Sentuhan )
Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ektremitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perabaan digunakan untuk membelai tubuh, dan mungkin bayi akan di peluk di lengan ibu, gerakan dilanjutkan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi, bayi akan merapat pada payudara ibu, menggenggam satu jari atau seuntai rambut dan terjadilah ikatan antara keduanya.
b.      Eye to Eye Contact ( Kontak Mata )
Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya. Bayi baru lahir dapat memusatkan perhatian kepada suatu obyek, satu jam setelah kelahiran pada jarak sekitar 20 – 25 cm, dan dapat memusatkan pandangan sebaik orang dewasa pada usia kira – kira 4 bulan.
Dengan demikian perlu diperhatikan dalam praktek kesehatan, adanya faktor – faktor yang dapat menghambat proses tersebut, misalnya untuk pemberian salep/tetes mata pada bayi dapat ditunda beberapa waktu sehingga tidak mengganggu adanya kontak mata ibu dn bayi
c.       Odor ( Bau Badan )
Indra penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Penelitian menunjukan bahwa kegiatan seorang bayi, detak jantung dan pola bernapasnya berubah setiap kali hadir bau yang baru, tetapi bersama dengan semakin dikenalnya bau itu, si bayi pun berhenti bereaksi. Pada akhir minggu pertama, seorang bayi dapat mengenali ibunya dari bau tubuh dan air susu ibunya. Indra penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya ASI pada waktu tertentu.
d.      Body Warm ( Kehangatan Tubuh )
Jika tidak ada komplikasi yang serius, seorang ibu akan dapat langsung meletakkan bayinya di atas perut ibu, baik setelah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberi banyak manfaat baik bagi ibu maupun si bayi yaitu terjadinya kontak kulit yang membantu agar bayi tetap hangat. 
e.       Voice ( Suara )
Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing – masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan tersebut, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik – baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara – suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara – suara itu terhalang selama beberapa hari oleh cairan amniotik dari rahim yang melekat pada telinga. Banyak penelitian memperlihatkan bahwa bayi – bayi baru lahir bukan hanya mendengar secara pasif melainkan mendengarkan dengan sengaja, dan mereka nampaknya lebih dapat menyesuaikan diri dengan suara – suara tertentu daripada yang lain contoh suara detak jantung ibu. 
f.       Entrainment ( Gaya Bahasa )
Bayi yang baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif.
g.      Biorhythmicity ( Irama Kehidupan )
Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi .untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.


2.1.2 Tehnik dan instrument pengkajian bounding attachment
Tehnik untuk mengkaji interaksi orang tua dan bayi antara lain dengan anamnesa/interview, observasi, dan mendengarkan.
Stainton (1981) telah merancang suatu alat untuk menskor pengkajian terhadap interaksi orang tua-bayi, untuk digunakan pada periode post partum. Alat ini berkaitan dengan perubahan respon – respon ibu dan ayah dimulai dari pertama mereka kontak setelah persalinan sampai dengan keseluruhan masa awal puerperium.
Hasil observasi berupa score dengan range sebagai berikut :
-       score  0-4 : kebutuhan support untuk  proses bonding bersifat intensif.
-       Score 5-7 : kebutuhan support untuk bonding bersifat ekstra
-       Score 8-10 : kebutuhan support untuk bonding bersifat biasa – biasa saja.
Penskoran ini didasarkan atas jumlah dan jenis perilaku afeksi yang ditunjukkan oleh ibu selama berinteraksi dengan bayinya.

2.2 Respon ayah dan keluarga
Reaksi orangtua dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif.
a.       Respon Positif
Respon positif dapat ditunjukkan dengan:
1.      Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
2.      Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.
3.      Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
4.      Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
b.      Respon Negatif
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
1.      Kelahiran bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan.
2.      Kurang berbahagia karena kegagalan KB.
3.      Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat perhatian.
4.      Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya.
5.      Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
6.      Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga.
Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir, terbagi menjadi:
  1. Perilaku memfasilitasi.
  2. Perilaku penghambat.
a.       Perilaku Memfasilitasi
1.      Menatap, mencari ciri khas anak.
2.      Kontak mata.
3.      Memberikan perhatian.
4.      Menganggap anak sebagai individu yang unik.
5.      Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
6.      Memberikan senyuman.
7.      Berbicara/bernyanyi.
8.      Menunjukkan kebanggaan pada anak.
9.      Mengajak anak pada acara keluarga.
10.  Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
11.  Bereaksi positif terhadap perilaku anak.

b.      Perilaku Penghambat
1.      Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
2.      Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
3.      Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
4.      Tidak menggenggam jarinya.
5.      Terburu-buru dalam menyusui.
6.      Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
Respon orang tua terhadap bayinya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
  1. Faktor internal.
  2. Faktor eksternal.
a.       Faktor Internal
Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan (mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan.
b.      Faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya.
Kondisi yang Mempengaruhi Sikap Orang Tua Terhadap Bayi
  1. Kurang kasih sayang.
  2. Persaingan tugas orang tua.
  3. Pengalaman melahirkan.
  4. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan.
  5. Cemas tentang biaya.
  6. Kelainan pada bayi.
  7. Penyesuaian diri bayi pascanatal.
  8. Tangisan bayi.
  9. Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran.
  10. Gelisah tentang kenormalan bayi.
  11. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi.
  12. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.

2.3 Sibling rivalry
Kehadiran anggota keluarga baru (bayi) dalam keluarga dapat menimbulkan suatu krisis situasional yang sebaiknya perlu dipersiapkan pada anak usia toddler (1-3 tahun) terutama pada anak pertama dimana ia mempunyai pengalaman dengan posisi yang menyenangkan menjadi nomor satu.
a.       Pengertian
1)      Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
2)      Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.
Sibling rivalry menunjuk pada kecemburuan dan kemarahan yang lazim terjadi pada anak sehubungan dengan kehadiran anggota keluarga baru dalam keluarga yang dalam hal ini adalah saudara sekandung.
Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.
b.      Perubahan sikap dan perilaku dengan kehadiran sibling rivalry Respon yang dapat ditunjukkan oleh anak, antara lain:
-          Memukul bayi
-          Mendorong bayi dari pangkuan ibu
-          Menjauhkan puting susu dari mulut bayi
-          Secara verbal menginginkan bayi kembali ke perut ibu
-          Ngompol lagi
-          Kembali tergantung pada susu botol
-          Bertingkah agresif
c.       Antisipasi terhadap perubahan sikap dan perilaku Siapkan secara dini untuk kelahiran bayi :
-          Mulai kenalkan dengan organ reproduksi dan seksual
-          Beri penjelasan yang konkret tentang pertumbuhan bayi dalam rahim dengan menunjukkan gambar sederhana tentang uterus dan perkembangan fetus
-          Beri kesempatan anak untuk ikut gerakan janin
-          Libatkan anak dalam perawatan bayi
-          Beri pengertian mendasar tentang perubahan suasana rumah seperti alasan pindah kamar.
-          Lakukan aktifitas yang biasa dan lakukan dengan anak seperti mendongeng sebelum tidur atau piknikbersama.
d.      Penyebab Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1        Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.
2        Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
3        Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.
4        Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5        Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
6        Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.
7        Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
8        Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.
9        Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
10    Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11    Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
12    Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
e.       Segi Positif Sibling Rivalry
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
1.    Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
2.    Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3.    Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
f.       Mengatasi Sibling Rivalry
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
1.      Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
2.      Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3.      Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4.      Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5.      Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6.      Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.
7.      Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8.      Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9.      Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
10.  Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
11.  Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
12.  Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
13.  Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
14.  Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
g.      Adaptasi Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan
Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini.
Tingkah laku ini antara lain berupa:
1        Masalah tidur.
2        Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
3        Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol.
h.      Batita (Bawah Tiga Tahun)
Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2 tahun. Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:
1.      Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.
2.      Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.
3.      Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.
4.      Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.
i.        Anak yang Lebih Tua
Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12 tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya.
j.        Remaja
Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:
1        Berkurangnya ikatan kepada orang tua.
2        Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri.
3        Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri.
4        Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.


k.      Peran Bidan
Peran bidan dalam mengatasi sibling rivalry, antara lain:
1        Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.
2        Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar